Karya Tulis Ilmiah
PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR DARI BONGGOL, TANGKAI DAN BUAH PISANG KEPOK DENGAN CAMPURAN AKTIVATOR MOLASE TAHUN 2026
Sampah organik menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang cukup serius di Indonesia, terutama di kawasan perkotaan yang padat penduduk. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2025, timbulan sampah di wilayah DKI Jakarta mencapai 3.351.057,14 ton per tahun dengan sampah organik sebagai jenis sampah dominan sebesar 49,87%. Salah satu sumber sampah \r\norganik berasal dari Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, yang menghasilkan limbah bonggol, tangkai, dan buah pisang kepok mencapai kurang lebih 50 kg/hari. \r\n\r\nPenelitian yang berjudul “Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Bonggol, \r\nTangkai, dan Buah Pisang Kepok dengan Campuran Aktivator Molase Tahun 2026” ini menggunakan metode eksperimen untuk menguji karakteristik dan kualitas pupuk organik cair dari bahan bonggol, tangkai, dan buah pisang kepok dengan penambahan aktivator molase pada variasi waktu fermentasi 1 bulan dan 1,5 bulan. Kualitas pupuk dinilai berdasarkan kandungan Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium \r\n(K), serta parameter pH dan suhu, kemudian dibandingkan dengan standar mutu pupuk organik cair sesuai Keputusan Menteri Pertanian Nomor 261 Tahun 2019.\r\n\r\nHasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik cair pada kedua variasi waktu fermentasi mengalami perubahan warna dari coklat muda menjadi coklat tua serta aroma dari fermentasi tape menjadi aroma manis segar. Kadar Nitrogen, Fosfor, dan Kalium pada fermentasi 1 bulan berturut-turut sebesar 0,05%, 0,01%, dan 0,44%, sedangkan pada fermentasi 1,5 bulan sebesar 0,05%, 0,01%, dan 0,51%, yang keduanya masih berada di bawah standar minimal yang dipersyaratkan. Mutu terbaik diperoleh pada variasi fermentasi 1,5 bulan karena menghasilkan kadar Kalium tertinggi.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain