Karya Tulis Ilmiah
UJI KUALITAS PUPUK ORGANIK CAIR SAMPAH KULIT PISANG KEPOK DAN SAMPAH TANAMAN KATUK DENGAN BIOAKTIVATOR MOLASE DI PASAR LENGKA, PADEMANGAN, JAKARTA UTARA TAHUN 2026
Sampah organik seperti kulit pisang kepok dan tanaman katuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik cair sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat penumpukan sampah organik. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik, pH, suhu, kandungan unsur hara makro Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K), serta membandingkan kualitas pupuk organik cair dari kulit pisang kepok dan tanaman katuk menggunakan bioaktivator molase.\r\nPenelitian ini bersifat eksperimental dengan menggunakan sampah kulit pisang kepok dan tanaman katuk yang diperoleh dari Pasar Lengka, Pademangan, Jakarta Utara. Fermentasi dilakukan secara anaerob selama 20 hari dengan penambahan molase sebagai bioaktivator. Pengamatan dilakukan terhadap warna, bau, tekstur, suhu, dan pH, sedangkan pengujian kandungan N, P, dan K dilakukan di Laboratorium ICBB PT. Biodiversitas Bioteknologi Indonesia.\r\nHasil pengamatan terhadap karakteristik pupuk organik cair kulit pisang kepok dan tanaman katuk dengan bioaktivator molase berwarna cokelat kehitaman (gelap), bau khas POC matang, dengan tekstur lunak. Nilai pH kedua sampel meningkat dari 6 pada awal fermentasi menjadi 8 pada hari ke-20. Suhu pupuk organik cair kulit pisang kepok meningkat dari 30,5°C menjadi 31,4°C, sedangkan tanaman katuk meningkat dari 30,5°C menjadi 31,5°C. Hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan N, P, dan K pada pupuk organik cair kulit pisang kepok masing-masing sebesar 0,034%, 0,012%, dan 0,43%, sedangkan pada tanaman katuk sebesar 0,13%, 0,028%, dan 0,46%. Kandungan N, P, dan K pada kedua sampel belum memenuhi persyaratan Permentan No. 70 Tahun 2011, sedangkan nilai pH dan suhu masih berada dalam kisaran yang sesuai.\r\nBerdasarkan hasil penelitian, pupuk organik cair tanaman katuk memiliki kualitas lebih baik dibandingkan kulit pisang kepok berdasarkan kandungan N, P, dan K, meskipun keduanya belum memenuhi persyaratan mutu secara keseluruhan. Penelitian selanjutnya dapat mengoptimalkan komposisi bahan baku dengan menambahkan bahan yang memiliki kandungan unsur hara makro lebih tinggi, seperti daun kelor sebesar 11,35% dan kotoran hewan sekitar 3% untuk meningkatkan N, daun lamtoro sebesar 0,40% dan tepung tulang untuk meningkatkan P, serta tanaman gamal sebesar 2,65% dan kulit pisang kepok sebesar 1,37% untuk meningkatkan K.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain