Karya Tulis Ilmiah
Perbedaan Kualitas Briket Bioarang dari Sampah Kulit Ketupat dengan Metode Karbonisasi dan Tanpa Karbonisasi Tahun 2026
Berdasarkan data SIPSN KLHK, timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 18,74 juta ton, dengan 65,88% belum terkelola dengan baik. Salah satu sampah organik yang berpotensi dimanfaatkan adalah kulit ketupat berbahan janur yang memiliki tekstur berserat dan mudah kering, sehingga dapat diolah menjadi briket bioarang.\r\n\r\nPenelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kualitas briket bioarang dari kulit ketupat dengan metode karbonisasi dan tanpa karbonisasi serta potensinya sebagai bahan bakar alternatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan parameter kerapatan, kadar air, kadar abu, laju pembakaran, dan lama mendidihkan air yang dibandingkan dengan SNI 01-6235-2000.\r\n\r\nHasil penelitian menunjukkan bahwa briket metode karbonisasi memiliki kerapatan 0,3611 g/cm³, kadar air 54,6%, kadar abu 6,5%, laju pembakaran 0,203 g/menit, dan lama mendidihkan air 10 menit 45 detik. Sementara itu, metode tanpa karbonisasi menghasilkan kerapatan 0,3396 g/cm³, kadar air 57,3%, kadar abu 5,3%, laju pembakaran 0,480 g/menit, dan lama mendidihkan air 23 menit 51 detik. Kerapatan dan kadar air kedua metode belum memenuhi standar, sedangkan kadar abu telah memenuhi standar karena berada di bawah 8%. Metode karbonisasi menunjukkan laju pembakaran dan waktu mendidihkan air yang lebih baik, sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain