Karya Tulis Ilmiah
HUBUNGAN POLIFARMASI DAN POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN PENYAKIT PENYERTA DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KARTINI KABUPATEN LEBAK, BANTEN PERIODE OKTOBER-DESEMBER 2025
Hubungan Polifarmasi dan Potensi Interaksi Obat pada Pasien Hipertensi dengan Penyakit Penyerta di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Kartini, Kabupaten Lebak, Banten Periode Oktober-Desember 2025\r\nOleh :\r\nRegita Naada Aliya\r\nP2.48.40.1.23.069\r\nPendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit kronis dengan prevalensi tinggi dan sering disertai dengan penyakit penyerta seperti diabetes melitus, dislipidemia, penyakit ginjal kronik, penyakit jantung koroner, dan stroke. Kondisi tersebut menyebabkan pasien mendapatkan ≥5 obat (polifarmasi) dan meningkatkan risiko interaksi obat yang menurunkan efektivitas terapi. Oleh karena itu, identifikasi potensi interaksi obat penting dilakukan untuk mendukung keamanan dan keberhasilan terapi pasien.\r\nTujuan: Mengetahui hubungan polifarmasi dan potensi interaksi obat pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta di Instalasi Rumah Sakit Kartini, Kabupaten Lebak, Banten Periode Oktober-Desember 2025.\r\nMetode: Penelitian ini menggunakan desain studi analitik cross-sectional dengan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis pasien. Sampel sebanyak 100 pasien didapatkan dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Identifikasi potensi interaksi obat menggunakan website Drugs.com Interaction Checker. \r\nHasil: Sebagian besar pasien berada pada kelompok usia dewasa (69%) dan jenis kelamin perempuan (75%). Penyakit penyerta terbanyak adalah diabetes melitus (47,30%). Sebagian besar pasien mengalami kejadian polifarmasi sebanyak (90%) dan (92%) pasien teridentifikasi mengalami potensi interaksi obat. Berdasarkan tingkat keparahannya, potensi interaksi obat didominasi oleh kategori moderat sebanyak (83,78%) diikuti dengan minor (11,51%) dan major (4,71%). Mekanisme interaksi obat yang paling banyak ditemukan adalah farmakodinamik (72,83%) dibandingkan dengan interaksi farmakokinetik (27,17%). Kombinasi obat terbanyak adalah sucralfat dengan lasnoprazole sebanyak (3,77%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara polifarmasi dan potensi interaksi obat (p=0,031).\r\nKesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara polifarmasi dan potensi interaksi obat pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Kartini Kabupaten Lebak, Banten Periode Oktober-Desember 2025.
Tidak tersedia versi lain