Karya Tulis Ilmiah
Potensi Interaksi Obat pada Pasien Gagal Ginjal Kronis (GGK) yang Menjalani Hemodialisis di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sitanala Tangerang Tahun 2025
Pendahuluan : Penggunaan polifarmasi pada pasien gagal ginjal kronis (GGK) dapat meningkatkan risiko interaksi obat. Risiko tersebut semakin meningkat dengan adanya penyakit penyerta yang memerlukan terapi tambahan. \r\nTujuan : Mengetahui potensi interaksi obat pada pasien gagal ginjal kronis (GGK) yang menjalani hemodialisis di RSUP Dr. Sitanala Tangerang Tahun 2025.\r\nMetode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif non-eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif dari rekam medis. Sampel diambil dengan teknik total sampling dan diperoleh 69 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis interaksi obat dilakukan menggunakan drug interaction checker dan microsoft exel.\r\nHasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien didominasi oleh perempuan (53,62%) dan kelompok usia 55–64 tahun (36,23%), dengan mayoritas berada pada stadium 5 (86,96%). Penyakit penyerta terbanyak adalah anemia (34,27%), dan seluruh pasien (100%) menerima terapi ≥5 obat. Sebanyak 66 pasien (95,65%) berpotensi mengalami interaksi obat, dengan mekanisme farmakodinamik (57,14%) lebih dominan dibandingkan farmakokinetik (42,86%). Berdasarkan tingkat keparahan, interaksi moderate paling banyak ditemukan (78,20%) dengan kombinasi terbanyak Calcium carbonate + Amlodipine (6,95%), diikuti minor (14,47%) pada kombinasi obat Albuterol + Budesonide (1,13%) dan mayor (7,33%) pada kombinasi obat Rifampicin + Isoniazid (7,33%).\r\nKesimpulan : Tingginya potensi interaksi obat pada pasien GGK yang menjalani hemodialisis menunjukkan perlunya pemantauan dan evaluasi terapi oleh farmasis guna meningkatkan keamanan pengobatan pasien.\r\nKata kunci : Gagal Ginjal Kronis, Hemodialisis, Interaksi Obat, Polifarmasi.
Tidak tersedia versi lain