Skripsi
UJI PERBEDAAN PENGGUNAAN MOL TAPAI SINGKONG DAN MOL REBUNG BAMBU TERHADAP KUALITAS KOMPOS SAMPAH SAYURAN PASAR TAHUN 2026
Sampah menjadi permasalahan lingkungan yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. SIPSN 2025 mencatat produksi sampah nasional mencapai 20,25 juta ton per tahun, dengan 65,21% sampah organik yaitu limbah sayuran pasar. Pengomposan adalah metode pengolahan efektif dan dapat dioptimalkan menggunakan aktivator MOL Tapai Singkong dan MOL Rebung Bambu untuk dekomposer serta meningkatkan kualitas kompos. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kualitas unsur makro (C-Organik, N, P₂O₅, K₂O), rasio C/N yang dihasilkan pada pengomposan sampah sayuran pasar antara penggunaan MOL Tapai Singkong dan MOL Rebung Bambu.\r\n\r\nMetode penelitian yang digunakan True Experimental, desain Posttest Only Control Group. Pengomposan semi anaerob dengan bahan baku sampah sayuran 27 kg, terdiri dari tiga perlakuan (masing-masing 3 kg sampah ditambahkan 200 ml MOL Tapai, 200 ml MOL Rebung, dan kontrol tanpa aktivator), dilakukan tiga kali replikasi. Hasil kompos diperiksa unsur hara makro, kematangan kompos, pH, suhu, dan kelembapan.\r\n\r\nHasil setelah 21 hari seluruh kompos matang berbau tanah, bertekstur halus, dan berwarna cokelat kehitaman. Rata-rata kandungan unsur hara makro pada MOL Tapai Singkong, MOL Rebung Bambu dan Kontrol adalah C-Organik (21,4%; 23,16%; 30,32%), N (1,14%; 1,17%; 1,02%), P₂O₅ (0,98%; 0,88%; 0,76%), K₂O (1,22%; 1,14%; 0,70%), dan rasio C/N (18,77; 19,74; 29,83). \r\n\r\nDisimpulkan hasil kompos menggunakan aktivator telah memenuhi SNI 19-7030-2004. Penggunaan MOL Tapai Singkong menghasilkan kandungan Phosfor dan Kalium yang lebih tinggi, sedangkan MOL Rebung Bambu lebih tinggi dalam menghasilkan kandungan C-Organik, Nitrogen dan Rasio C/N.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain