Skripsi
UJI EFEKTIVITAS LARUTAN DAUN LADA (PIPER NIGRUM L.) SEBAGAI LARVASIDA NABATI TERHADAP KEMATIAN LARVA NYAMUK AEDES AEGYPTI INSTAR III TAHUN 2026
Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan dapat menyebabkan keadaan darurat kesehatan masyarakat. Menurut Profil Kesehatan 2024 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tercatat 257.271 kasus DBD yang mengakibatkan 1.461 kematian, dengan tingkat insidenrate (IR) sebesar 91,93 per 100.000 penduduk. Penggunaan insektisida sintetis secara terus-menerus dapat menyebabkan resistensi nyamuk dan berdampak buruk terhadap lingkungan; oleh karena itu, larvasida berbahan dasar tumbuhan diperlukan sebagai alternatif. Daun lada hitam (Piper Nigrum L.) mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, dan minyak atsiri yang berpotensi berfungsi sebagai larvasida terhadap larva Aedes aegypti.\r\n\r\nPenelitian ini menggunakan metode kuasi-eksperimental dengan rancangan kelompok kontrol pasca-uji saja, yang dilaksanakan di Laboratorium Pengendalian Vektor dan Hama, Jurusan Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan Masyarakat Jakarta II di bawah Kementerian Kesehatan pada tahun 2026. Larutan daun lada disiapkan menggunakan metode kantong teh dan diuji pada konsentrasi 0,7%, 0,8%, 0,9%, 1,0%, dan 1,1%, beserta kelompok kontrol, masing-masing dengan lima ulangan. Sampel larva nyamuk Aedes aegypti instar ketiga yang digunakan terdiri dari 20 larva per ulangan, dengan total 600 larva nyamuk Aedes aegypti instar ketiga, dengan waktu kontak selama 24 jam.\r\n\r\nHasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematian larva rata-rata meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi larutan daun lada hitam, yaitu 33%, 47%, 60%, 68%, dan 80%. Uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan di antara perlakuan (p = 0,001), dengan nilai LC₅₀ sebesar 0,819%. Suhu dan pH tetap berada dalam kisaran optimal selama penelitian berlangsung. Larutan daun lada hitam (Piper Nigrum L.) efektif sebagai larvasida nabati terhadap larva Aedes aegypti instar ketiga, dengan konsentrasi 1,1% yang menghasilkan angka kematian larva tertinggi (81%).
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain