Laporan-PKL
Laporan Pelaksanaan Kegiatan Keluarga Binaan (KABIN) Kasus Baduta Berat Badan Kurang dan Stunting di RT 006 RW 03 Desa Tanjungsari, Kecamatan Cijeruk, Bogor, Jawa Barat
Gizi kurang di Indonesia terjadi pada balita yang memiliki berat badan
dibawah garis merah (BGM), yaitu letak titik dari hasil penimbangan berat
badan dari balita berada dibawah garis merah dalam grafik KMS. Dalam
status balita dengan BGM penentuan status gizi didasari dengan indikator
BB/U. Balita dengan BGM tidak dapat diartikan secara pasti menderita gizi
buruk ataupun stunting, akan tetapi dengan keadaan BGM dapat dijadikan
indikator awal bahwa balita tersebut memiliki permasalahan gizi ataupun
kurang gizi. Permasalahan gizi di Indonesia dengan triple burden dalam
permasalahan bidang gizi, yang dimaksud adalah defisiensi kalori dan protein,
defisiensi zat mikro, dan kelebihan kalori. Salah satu permasalahan yang
masih menjadi sorotan adalah defisiensi kalori dan protein yaitu status gizi
kurang. Berdasarkan Riskesdas Nasional 2018, terdapat 17,7% balita di bawah
5 tahun mengalami masalah gizi. Angka tersebut terdiri atas status gizi (BB/U)
balita gizi buruk sebesar 3,9% dan gizi kurang sebesar 13,8%. Di Indonesia
prevalensi status gizi (BB/TB) balita sangat kurus sebesar 3,5% dan kurus
6,7%, serta prevalensi status gizi (TB/U) balita sangat pendek sebesar 11,5%
dan pendek sebesar 19,3% (Riskesdas, 2018). Berdasarkan data SSGI
Nasional 2021 balita stunted (TB/U) sebesar 24,4%, balita wasted (BB/TB)
sebesar 7,1%, dan balita underweight (BB/U) sebesar 17%. Di Provinsi Jawa
Barat, status gizi (BB/U) balita gizi buruk sebesar 2,61% dan gizi kurang
sebesar 10,58%, status gizi (BB/TB) balita sangat kurus sebesar 3,2% dan
kurus sebesar 3,84%, serta status gizi (TB/U) balita sangat pendek sebesar
11,67% dan pendek sebesar 19,39% (Riskesdas, 2018). Berdasarkan data
SSGI Jawa Barat 2021, balita wasted (BB/TB) sebesar 5,3%, balita
underweight (BB/U) sebesar 15%, dan balita stunted (TB/U) sebesar 24,5%.
Di Kabupaten Bogor, status gizi (BB/U) balita gizi buruk sebesar 3,06% dan
gizi kurang sebesar 11,43%, status gizi (BB/TB) balita sangat kurus sebesar
2,36% dan kurus sebesar 3,48%, serta status gizi (TB/U) balita sangat pendek
sebesar 11,98% dan pendek sebesar 20,88% (Riskesdas, 2018). Hal ini menandakan bahwa masalah gizi masih menjadi persoalan yang perlu diatasi. Salah satu upaya yang dilakukan oleh mahasiswa untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut adalah melaksanakan kegiatan Keluarga Binaan (KABIN). Kegiatan Keluarga Binaan (KABIN) merupakan salah satu kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di bidang Manajemen Intervensi Gizi Masyarakat (MIGM) di Desa Tanjungsari, Kecamatan Cijeruk, Bogor, Jawa Barat. KABIN dilaksanakan selama tujuh kali kunjungan langsung ke rumah responden yang anggota keluarganya memiliki masalah gizi. Kegiatan keluarga binaan ini berupa melakukan assessment dengan wawancara dan pengukuran antropometri, pemberian edukasi dan konseling terkait gizi dan kesehatan, serta monitoring. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu keluarga mengenali dan mengatasi permasalahan gizi yang terjadi. Pada akhir masa pembinaan, diharapkan terjadi perubahan pola makan, tingkat pengetahuan, hingga perilaku terkait gizi dan kesehatan yang kedepannya diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan gizi yang terjadi di dalam keluarga tersebut.
Tidak tersedia versi lain